Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

5 Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Yang Paling Bersejarah

Nainathefilm – Siapa yang tak kenal Kerajaan Sriwijaya? Kerajaan yang berciri khas Buddha ini diperkiraan sudah berdiri sejak abad ke 7 Masehi. Jika dilihat pada masa saat ini, Kerajaan Sriwijaya berada di Palembang. Kerajaan Sriwijaya terkenal sebagai kerajaan maritim dan meluas hingga Thailand. Beberapa wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yaitu Thailand Selatan, Kamboja, Semenanjung Malaya, Sumatera dan Pulau Jawa.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Karena kekuasaannya yang sangat luas dan masa kejayaannya yang lama, Kerajaan Sriwijaya meninggalkan beberapa peninggalan yang menjadi bukti kuat kehadiran Kerajaan Sriwijaya pada saat itu. Beberapa peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang terkenal hingga saat ini yaitu:

1. Prasasti Kedukan Bukit

Kedukan Bukit merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan oleh M. Batenburg pada 29 November 1920. Lokasi penemuan prasasti ini berada di tepi sungai Tatang yang mengalir hingga sungai Musi. Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Palawa dalam bahasa Melayu Kuno. Tulisan di prasasti Kedukan Bukit mengisahkan tentang perjalanan suci menggunakan Sidhayarta yang dilakukan oleh seorang dari kerajaan bernama Dapunta Hyang. Selama menempuh perjalanan, Dapunta Hyang didampingi oleh pasukan yang berjumlah 2.000 orang. Dapunta Hyang melakukan perjalanan dari Minanga untuk menguasai wilayah tempat prasasti tersebut ditemukan, yakni sekitar Sungai Musi. Prasasti Kedukan Bukit dapat dijumpai di Museum Nasional Indonesia.

2. Prasasti Talang Tuwo

Prasasti Talang Tuwo ditemukan oleh Louis Constant Westenek pada tanggal 17 November 1920. Prasasti ini berukuran 50 cm x 80 cm dan berlokasi di kaki Bukit Siguntang. Talang Tuwo ditulis dalam huruf Palawa dan bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini berisi tentang doa-doa Buddha yang menjadi kepercayaan kuat pada masa Kerajaan Sriwijaya. Prasasti tersebut menulisan pembuatannya pada tahun 606 Saka atau bertepatan dengan 23 Maret 684 Masehi.

3. Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu ditemukan pada tahun 1935 di Kota Palembang di sekitar kolam Telaga Biru. Prasasti Telaga Batu merupakan batu andesit yang berukuran tinggi 118 cm dengan lebar 148 cm. Bagian atas prasasti ini terdiri dari 7 buah hiasan kepala ular kobra. Prasasti Telaga Batu berisi 28 baris tulisan yang ditulis menggunakan aksara Palawa dan bahasa Melayu Kuno. Isi dari prasasti ini yaitu kutukan kepada siapa saja yang tidak patuh pada raja atau bertindak jahat di kawasan Kerajaan Sriwijaya. Ada beberapa nama yang disebut di dalam prasasti tersebut, yaitu pejabat-pejabat tinggi kerajaan seperti putra raja, menteri, bupati, panglima, tokoh terkemuka, bangsawan, ahli senjata, dan sebagainya. Nama nama tersebut diperkirakan sebagai orang orang yang berpotensi untuk mengkhianati raja.

4. Prasasti Ligor

Prasasti Ligor ditemukan di Thailand Selatan, tepatnya di Ligor (saat ini dikenal dengan nama Nakhon Si Thammarat). Prasasti ini memiliki dua sisi pahatan sehingga disebut Ligor A atau manuskrip Viang Sa dan Ligor B. Prasasti Ligor A bercerita tentang kebesaran raja Sriwijaya yang agung. Ligor B ditulis menggunakan huruf Kawi dan berangka tahun 775. Isi prasasti Ligor B adalah berita mengenai Visnu yang mempunyai gelar Sri Maharaja dari trah atau Wangsa Sailendra. Sri Maharaja berjuluk Sesavvarimadavimathana yang memiliki arti pembunuh para musuh yang sombong.

5. Prasasti Palas Pasemah

Prasati Palas Pasemah ditemukan di Desa Palas Pasemah wilayah Lampung Selatan. Prasasti ini berisi 13 baris tulisan yang ditulis menggunakan huruf Pallawa dalam bahasa Melayu Kuno. Meskipun tidak terdapat tulisan jelas mengenai angka pembuatannya, namun sejarawan memperkirakan prasati ini dibuat pada akhir abad ke-7 Masehi.